TR News - Sungai Penuh, Jambi —
Seorang remaja dinyatakan hilang di kawasan Renah Kayu Embun (RKE), Kota Sungai Penuh. Ia lenyap saat berburu babi bersama rekannya. Lima bulan telah berlalu. Pencarian resmi dihentikan. Tidak ada jejak. Tidak ada jasad. Tidak ada kepastian.
Pencarian awal melibatkan tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Damkar, dan masyarakat adat. Drone thermal diterbangkan. Anjing pelacak dilepas. Sungai disisir. Semak dibuka. Tapi hutan tetap diam. Seolah menyimpan sesuatu yang tak ingin ditemukan.
Lalu, di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, sebuah jasad ditemukan di dalam batang pohon aren yang telah mati. Ia telah hilang selama dua tahun. Lokasinya hanya belasan meter dari rumahnya. Tidak diculik. Tidak kabur. Ia terperosok, tertutup, dan tak pernah terlihat—hingga pohon itu tumbang akibat angin.
Apakah tragedi yang satu akan terulang pada yang lain?
Pertanyaan itu kini menggema di Sungai Penuh. Di warung kopi. Di grup WhatsApp. Di hati masyarakat yang tak bisa tidur. Jika seseorang bisa tersembunyi di pohon selama dua tahun, mungkinkah yang hilang di RKE kini terdiam di balik akar, di celah batu, di rongga pohon tua yang tak pernah diperiksa?
> “Kami sudah menyisir sungai, semak, dan jalur berburu. Tapi hutan ini luas, dan banyak titik yang belum terjamah,” ujar seorang relawan pencarian.
> “Setelah kejadian di pohon aren, kami sadar bahwa pencarian harus lebih dari sekadar menyisir permukaan. Kita harus curiga pada pohon tua, lubang tanah, bahkan batang yang tampak biasa,” tambah seorang warga Kumun Debai.
Pencarian resmi telah lama dihentikan. Tim pulang. Laporan ditutup. Tapi luka tetap terbuka. Apakah semua titik sudah diperiksa? Apakah semua kemungkinan sudah dibuka?
Mungkinkah Ia Terperosok di Sungai atau Lubang Payau?
Kawasan RKE bukan sekadar hutan biasa. Ia menyimpan medan yang kompleks: sungai deras, lubang-lubang payau yang tertutup semak, tanah gambut yang bisa menelan tubuh tanpa bekas. Dalam kondisi seperti itu, sangat mungkin seseorang terperosok ke dalam lubang berlumpur, terseret arus, atau tertahan di dasar sungai yang tak terlihat dari permukaan.
Pakar forensik menyebut bahwa tubuh manusia bisa tenggelam dan tertahan di titik stagnan, tertutup akar, lumpur, atau vegetasi. Dalam beberapa kasus, jasad baru muncul setelah musim berganti atau tanah bergeser. Jika pohon bisa menyembunyikan jasad selama dua tahun, lubang payau jauh lebih mampu menelan tubuh tanpa jejak.
Dua remaja. Dua lokasi. Dua tragedi. Satu pola yang tak boleh terulang.
Negara harus belajar. Aparat harus membuka kemungkinan non-konvensional. Jangan hanya cari penculik. Cari pohon berlubang. Cari tanah yang retak. Cari sungai yang menyimpan. Karena alam bisa menyembunyikan tubuh manusia dengan sangat rapi—tanpa suara, tanpa saksi, tanpa jejak.
Kita tak boleh lagi percaya bahwa pencarian selesai ketika tim pulang. Kita tak boleh lagi menganggap hilang sebagai takdir. Kita harus percaya bahwa setiap anak yang hilang adalah panggilan untuk bertindak lebih dalam, lebih jujur, lebih menyeluruh.
Wira hilang. Yuda terlambat ditemukan. Kita tak boleh menunggu tragedi ketiga. (NN)





Tidak ada komentar:
Write komentar