Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Tebo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tebo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2025

Video : Heboh... Anak 4 Tahun Asal Makassar Diculik dan Dijual, Pelaku Ditangkap di Sungai Penuh

 

Sumber Video FB Dewi Wilonna

TR News– Sungai.Penuh, Tim gabungan Satreskrim Polres Kerinci bersama Resmob Polda Jambi dan Polrestabes Makassar berhasil menangkap dua pelaku penculikan anak di Kota Sungai Penuh, Jambi. Korban, Bilqis Ramdhani (4), sebelumnya diculik di Makassar dan dijual ke Suku Anak Dalam di Kabupaten Merangin dengan harga Rp 80 juta.  


Tim Opsnal Satreskrim Polres Kerinci menerima informasi dari Polrestabes Makassar bahwa pelaku Adefrianto Syahputra S dan Mery Ana berada di Sungai Penuh. Tim gabungan kemudian melakukan penyelidikan dan menemukan lokasi penginapan pelaku di dekat Masjid Raya, Kelurahan Pasar Sungai Penuh.  

Sumber Video FB Dewi Wilonna

Pada Jumat, 7 November 2025 Di dapatkan informasi Keberadaan.pelaku, sekitar pukul 13.30 WIB, kedua pelaku ditangkap tanpa perlawanan. Dari keterangan pelaku, korban telah dijual ke Suku Anak Dalam di Desa Mentawak, Merangin. Tim gabungan segera bergerak ke Merangin dan berhasil menemukan serta menyelamatkan Bilqis. Saat ini korban diamankan di Polres Merangin.  


Humas Polres Kerinci menegaskan kasus ini menunjukkan adanya jaringan besar penculikan anak antar daerah yang beroperasi lintas provinsi. Masyarakat diminta lebih hati-hati menjaga anak-anak, meningkatkan kewaspadaan di lingkungan sekitar, dan segera melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan.  (NN)









Rabu, 27 Agustus 2025

M. Ilham Pradipta Diseret dan Dibunuh: Dendam Penolakan Hutang Rp13 Miliar dari Crazy Rich Rimbo Bujang Tebo

 

Video Dwi Hartono
TR News - Parkiran sebuah supermarket di Bekasi mendadak jadi panggung penculikan. Muhammad Ilham Pradipta, Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, diseret dua pria bertubuh kekar. Ia meronta, berteriak, tapi tak ada yang berani menolong. Dalam hitungan menit, ia lenyap. Video CCTV viral. Publik geger. Tapi satu pertanyaan menggantung: siapa dalangnya?


Nama yang muncul kemudian mengejutkan banyak pihak. Dwi Hartono, pengusaha flamboyan asal Rimbo Bujang, Jambi. Sosok yang selama ini dikenal sebagai motivator bisnis, pendiri yayasan beasiswa, dan bintang tamu acara kampung. Ia tampil glamor, penuh senyum, dan sering memberi ceramah tentang kesuksesan. Tapi di balik dasi mahal dan panggung motivasi, tersimpan dendam Rp13 miliar yang membara.

Motif akhirnya terkuak. Dwi Hartono mengajukan permohonan pinjaman Rp13 miliar ke BRI. Tapi permohonan itu fiktif. Tidak ada jaminan. Tidak ada portofolio bisnis yang kredibel. Ilham menolak. Bukan karena benci pribadi, tapi karena memang tidak layak. Bank BUMN tidak didirikan untuk menyalurkan kredit bohongan. Namun bagi Dwi, penolakan itu adalah tamparan di tengah keramaian. Harga dirinya jatuh bebas. Egonya remuk. Psikolog menyebut kondisi ini sebagai “narsistik terluka”—ketika seseorang yang terbiasa dipuja merasa hancur saat citranya ditolak.


Dwi, yang terbiasa menjadi sang pemberi—pemberi beasiswa, pemberi ceramah, pemberi bingkisan—tidak siap ketika dirinya meminta dan ditolak. Terutama Rp13 miliar yang ia anggap sebagai tiket emas ke panggung bisnis berikutnya. Dalam pikirannya, penolakan itu bukan sekadar soal uang, melainkan penghinaan eksistensial. Seolah-olah Ilham berkata, “Hartono, engkau bukan siapa-siapa.” Dan bagi seorang narsis, kata-kata tak terucap itu lebih menyakitkan dari penjara itu sendiri.

Dari titik itu, narasi hidupnya melompat ke arah gelap. Dwi tidak mencari konselor psikologi, melainkan mencari debt collector. Ia membayar orang-orang itu agar menculik Ilham, menjadikan kepala cabang bank itu simbol korban dari harga diri yang terluka. Sebuah video viral bahkan memperlihatkan bagaimana Ilham diseret di parkiran supermarket, sebuah tontonan horor yang lebih nyata daripada film thriller.


Kematian Ilham di Bekasi menandai puncak dari drama psikologis yang gagal diolah. Seorang motivator bisnis, yang konon selalu berkata “jangan menyerah meski gagal,” justru menyerah pada amarah pribadi dan melampiaskannya dengan darah. Di sinilah absurditas terasa begitu telanjang. Sebuah kredit fiktif Rp13 miliar, yang mestinya hanya menjadi dokumen ditolak lalu dilupakan, justru berubah menjadi tragedi kemanusiaan.


Polisi menekankan bahwa motif ini masih dalam pendalaman. Bisa jadi ada jaringan lain. Bisa jadi ada skema lebih busuk. Tetapi publik keburu yakin bahwa penolakan itulah detonator utama. Psikologi sosial mengajarkan, seseorang yang terbiasa dipuja akan lebih sulit menerima kritik atau penolakan. Dwi Hartono, yang hidupnya dibangun di atas panggung citra glamor, akhirnya tak kuasa menelan kenyataan bahwa ada satu orang yang berani mengatakan “tidak” padanya.


Inilah hasilnya. Seorang malaikat beasiswa kini menjelma jadi tersangka pembunuhan, hanya karena Rp13 miliar tak cair. Dari perspektif psikologi, ini tragedi narsisme yang gagal diatur. Dari perspektif publik, ini lelucon pahit: seorang motivator ternyata butuh motivasi agar tidak berubah jadi algojo.


Masyarakat akan terus mengawal kasus ini. Karena di balik angka Rp13 miliar, ada nyawa yang hilang, ada citra yang runtuh, dan ada pelajaran pahit tentang betapa rapuhnya manusia di balik dasi mahal. (AAH)









Kamis, 21 Agustus 2025

Ruang Pelayanan RSUD MHA Thalib Kosong Saat Jam Kerja, Wartawan Media Ini Terpaksa Pulang Tanpa Layanan

 

TR News -SUNGAI PENUH — Kondisi mengejutkan terjadi di RSUD Mayjen H.A. Thalib, rumah sakit milik Pemerintah Kota Sungai Penuh. Pada Rabu pagi (20/8/2025), wartawan dari media online ini datang ke rumah sakit untuk mengurus pelayanan kesehatan. Namun saat tiba di ruang pelayanan utama, tidak ada satu pun petugas yang berjaga. Loket pendaftaran tidak aktif, meja informasi kosong, dan ruangan tampak gelap serta tidak berfungsi.


Wartawan tersebut datang sebagai warga yang hendak mengakses layanan kesehatan, bukan dalam kapasitas peliputan. Setelah menunggu cukup lama, tidak ada petugas yang muncul. Beberapa pasien lain yang duduk di ruang tunggu juga tampak bingung, dan sebagian memilih pulang karena tidak mendapat kepastian pelayanan.

“Saya datang untuk urusan kesehatan, bukan wawancara. Tapi ruangan kosong. Tidak ada petugas, tidak ada aktivitas. Ini jam kerja, bukan hari libur,” ujarnya.


RSUD MHA Thalib secara resmi berada di bawah kepemilikan dan pengelolaan Pemerintah Kota Sungai Penuh. Rumah sakit ini berstatus BLUD dan merupakan rumah sakit umum kelas C yang berlokasi di Kecamatan Pesisir Bukit. Pemerintah Kota Sungai Penuh bertanggung jawab penuh atas manajemen, pelayanan, dan pengawasan operasional rumah sakit ini.


Kejadian ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terhadap RSUD MHA Thalib. Sebelumnya, rumah sakit ini telah disorot karena fasilitas yang tidak layak, seperti air tidak mengalir di ruang rawat inap, kamar mandi rusak, dan pelayanan medis yang lambat. Bahkan, beberapa pasien mengaku diarahkan membeli obat di luar dan dikenakan biaya tambahan untuk perlengkapan dasar yang seharusnya disediakan rumah sakit.


Pihak manajemen rumah sakit sebelumnya menyatakan bahwa pelayanan berjalan sesuai SOP dan masyarakat bisa menyampaikan keluhan melalui saluran resmi. Namun fakta di lapangan menunjukkan ketidakhadiran petugas saat jam kerja, yang bertentangan dengan prinsip dasar pelayanan publik.


Masyarakat mendesak Pemerintah Kota Sungai Penuh untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen RSUD MHA Thalib. Pelayanan kesehatan adalah hak dasar warga, bukan kemewahan yang hanya tersedia saat petugas sempat hadir. (Ade P)









Kamis, 26 Juni 2025

Demo berujung Ricuh di Kejari

 



Minggu, 22 Juni 2025

Sekolah Internasional Rasa Tipu-Tipu: Pasutri di Bekasi Habis Rp150 Juta Demi Status, Eh Lembaganya Bodong!

 

Sudah bayar ratusan juta, dapat seragam mahal, brosur glossy, dan janji Cambridge. Tapi sayang, yang datang bukan ijazah—melainkan kenyataan pahit: sekolah tak terdaftar.

FB News - Bekasi — Kisah memilukan tapi bikin geleng-geleng ini datang dari sepasang orang tua di Bekasi yang bermimpi menyekolahkan anaknya di lembaga bertaraf internasional. Brosurnya meyakinkan, stafnya berjas, gedungnya ber-AC sejuk, dan biayanya? Satu kali daftar—langsung Rp150 juta. Mewah, bukan main!


Sayangnya, mimpi itu buyar saat mereka hendak mengurus legalisasi dokumen sekolah. Jawaban dari Dinas Pendidikan: "Nama sekolah ini tidak ada di daftar kami, Bu."

Sebentar... Hah?


“Kami kira makin mahal makin aman. Ternyata malah makin dalam jebakannya,” keluh sang ibu dengan wajah lelah tapi pasrah.


Gedung kosong. Guru hilang. Pemilik entah ke mana. Yang tersisa cuma grup WhatsApp wali murid yang kini lebih mirip ruang curhat nasional.


“Kamu juga korban?” “Iya, kita sama.

Begitulah bunyinya.


Pakar pendidikan menyebut fenomena ini sebagai “branding beracun”—menggunakan label internasional tanpa legalitas. Masyarakat sering terkecoh dengan istilah "Cambridge", "Global Learning", atau "21st Century Smart Curriculum" yang ternyata hanya kosmetik pemasaran.


Apa Kata Dinas Pendidikan?  

Pihak berwenang menegaskan bahwa sekolah tersebut tidak memiliki izin operasional. Proses hukum sedang berjalan, dan para wali murid bersiap menempuh jalur hukum. Ya, setelah jalur premium gagal memberi perlindungan.


Kasus ini jadi pengingat: kadang yang berkilau bukan emas, tapi umpan. Sekolah mahal belum tentu sah, apalagi berkualitas. Jangan biarkan gengsi dan brosur dengan bendera asing membuat kita lupa pada hal paling penting: izin resmi dan rekam jejak yang jelas.


Karena di era ini, ijazah mungkin bisa dicetak, tapi kepercayaan yang hilang? Tak semudah dikopikan ulang. (AAH)

Jumat, 12 Februari 2016

Rekaman CCTV Balapan Lamborghini Vs Ferrari di Surabaya

 




VA.com, Surabaya. Video – Kamera pengawas berhasil merekam aksi balapan antara Ferrari merah dengan mobil Lamborghini Gallardo yang terjadi di Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya, pada Minggu pagi, 29 November 2015. Waktu itu, Lamborghini Gallardo yang tengah balapan dengan Ferrari merah tiba-tiba oleng ke kiri dan menyeruduk warung STMJ di sisi kiri jalan.

Rekaman CCTV Balapan Lamborghini Vs Ferrari di Surabaya

 




VA.com, Surabaya. Video – Kamera pengawas berhasil merekam aksi balapan antara Ferrari merah dengan mobil Lamborghini Gallardo yang terjadi di Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya, pada Minggu pagi, 29 November 2015. Waktu itu, Lamborghini Gallardo yang tengah balapan dengan Ferrari merah tiba-tiba oleng ke kiri dan menyeruduk warung STMJ di sisi kiri jalan.